Wednesday, July 20, 2005

mdyahya.blogspot.com

-postingan pertama pas blog baru dilaunching-18 July 5.07 pm

Akhirnya niat "ngebenerin" blog kelar juga, td malem ampe pagi utak-atik tag html trus ama nanya-nanya temen jg (sluw!!!thanks...) akhirnya slese juga. Walaupun hasilnya pas-pasan ;P tp lumayan lah lebih kelihatan teratur daripada sebelumnya.
Sore ini ngapa ya....kok perasaannya exited banget gitu, abis nglihat si enggar dibantai karena ultah (padahal menurut pengakuannya dia ultahnya esok) dan "seseorang dibantai" sebut saja "bunga" bukan nama sebenarnya karena ya....gt deh.....

Melihat kejadian demi kejadian sore ini saya jadi berpikir tentang.....kebenaran.....ya!!! kebenaran. Mungkin kebenaran adalah sesuatu yg masih tabu bila diungkapkan secara gamblang, tp kebenaran adalah sesuatu yg membingungkan juga, tentang bagaimana kita memerlakukan kebenaran itu sendiri. Mungkin hanya kita yang mengetahui bagaimana mengungkapkan proporsi kebenaran yg mengangkut tentang kita sendiri. Tetapi ingatlah suatu pepatah bahwa:


"sesuatu yang patut kita sesali bukanlah yang terlanjur kita katakan, karena suatu saat kita bisa melupakannya, tetapi sesuatu yang pantas kita sesali adalah sesuatu yang tidak sempat kita katakan, karena kita tidak akan mengetahui kapan kita mempunyai waktu lagi untuk mengatakannya....."

-salam-
all my family and friends

Tuesday, July 19, 2005

Kemarahan......

Ini benernya
udah tak posting lama di blogger. Dapet ilmu dari film anger
management, trus pas postingannya itu di kampus pas ada kejadian
"ya..gitu deh........"




Marah merupakan salah satu kegiatan untuk menunjukkan emosi ataupun
perasaan kita. Dengan marah mungkin akan menjadikan sesuatu menjadi
lebih baik. Ataupun sebaliknya, seperti yang biasanya terjadi hanyalah
akan memperburuk keadaan.




Kemarahan merupakan sesuatu yang
sangatlah wajar dan sebenarnya adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
Maka dari itu, tidak ada manusia yang tidak pernah marah. Tetapi hal
yang dapat membuat sesuatu kemarahan menjadi tidaklah wajar adalah
dimana kita memperlakukan kemarahan tidak pada tempatnya. Dimana
masa-masa yang seharusnya membuat kita tertawa maupun menangis, malah
akan menjadi penyulut kemarahan bagi kita. Hal seperti itu mungkin akan
akan menuntut kebijaksanaan dari kita tentang bagaimana "memperlakukan"
kemarahan yang sebenarnya.




Sifat "marah" dari seseorang (sebenarnya sifat seseorang) dibagi
menjadi dua. Yang pertama adalah kemarahan yang ekspulsif dan kemarahan
impulsif.




Kemarahan
ekspulsif adalah kemarahan yang diekspresikan pada saat sesuatu ataupun
seseorang "menyentuh" titik kemarahan kita. Orang yang ekspulsif
biasanya adalah orang yang terbuka, ekspresif, dan spontan. Dia akan
melakukan apa yang dia rasa untuk dilakukan saat itu juga, kadang
kedewasaan berpikir kurang diperhatikan oleh orang yang ekspulsif.
Orang yang bersifat ekspulsif biasanya juga orang yang ber-ego tinggi.
Dia akan mengatakan sesuatu yang dia anggap benar pada saat itu juga,
tidak terlalu lama disimpan dalam hati.




Kemarahan impulsif
merupakan kebalikannya. Orang yang marah secara impulsif, jika
dihadapkan dalam suatu keadaan dimana dia harus marah, dia akan
cenderung diam. Sikap diam adalah suatu ekspresi kemarahan yang
sempurna bagi para impulsifer (orang yang impulsif). Seseorang yang
impulsif biasanya orang yang pendiam, penyimpan rahasia, dan tertutup.
Dia akan "marah" dengan caranya sendiri, sebenarnya perasaan yang
diterima orang lain jika melihat seseorang marah adalah sama, hanya
orang cenderung akan menyukai orang yang marah secara impulsif
dibandingkan dengan ekspulsif.




Sebagai gambaran orang ekspulsif
adalah seorang karyawan suatu perusahaan akan memukul wajah atasannya
pada saat itu juga, ketika dia diperlakukan secara semena-mena.
Sedangkan seseorang yang impulsif adalah seseorang karyawan dari suatu
perusahaan yang kelihatannya memiliki hidup yang sempurna, istri yang
setia, keluarga yang bahagia, tetapi tiba-tiba menyandera seluruh rekan
sekantornya dan membunuh atasannya karena dia telah memendam kemarahan
selama dua tahun terakhir kepada bosnya ini karena telah berselingkuh
dengan istrinya.




Jadi,
setiap kemarahan ada keuntungannya maupun ada kerugiannya. Tergantung
bagaimana memperlakukan kemarahan tersebut agar dapat diterima orang
lain secara wajar.


Tetapi tahap dimana kita marah saat kita diinjak-injak adalah sesuatu yang wajar menurut saya...




-salam-

temen-temen yg baru aja pulang nonton konser pas band

dira,indah,daus,icha,sluw,elna,ayu,neno,jane,gg,anak2 bem

krisna,damar,budi,&yg gak kesebut, cuapeknya.....

Obat Bius itu adalah......

Stuktur data.....ya! struktur data. Mata kuliah yang dengan terpaksa saya ulang di sp ini karena sebelumnya telah mendapat nilai yang dirasa "cukup" oleh dosen yg bersangkutan. Jam 11-an masuk ke ruang kuliah (pattimura 1.1) udah ada dosennya, terus duduk, ndengerin penjelasan, terus.....yah.....yah......mulai deh.....ditambah dengan dinginnya ac, mata mulai berattt banget...he hehe. Trus nglirik ke samping, yah.....sama aja......temenku si andhies matanya udah merah nahan ngantuk.
Menit selanjutnya dalam keadaan yg menjengkelkan ini saya masih berusaha mengikuti jalannya perkuliahan. "Ya, sekarang saya akan menjelaskan tentang konsep stack, ato tumpukan, stack mempunyai konsep LIFO apakah LIFO itu?" (saya mencoba menjawab walaupun dengan suara yang seadanya) "Last in first out...".
Akhirnya kata-kata yg sangat ditunggu anak-anak akhirnya keluar juga,"Yah ini adalah slide terakhir dari saya, ini merupakan listing program.......". Setelah penjelasan yg tidak berapa lama akhirnya kuliah berakhir, dan anehnya adalah......ngantuk saya langsung hilang!!! he he he.
Dasar saya....

Sunday, July 17, 2005

Hanya sebuah comment......


Mungkin hanyalah sebuah nasehat dari seseorang, tp tidak ada salahnya untuk berbagi...


"mo comment ah...ttg berkurang dan berlebih...yg gak pernah jelas batasnya...inget
ketika kita SD? sng bgt waktu bisa maen layang2,trus panas2an berlari2
hanya demi sebuah layang2 putus? kita yg kekurangan ato kita berlebihan
thd layang2 itu? sekarang gak bisa lg merasakan masa2 itu, emg udah gak
pantes and gak ada lahan lgi...(merasa kekurangan sekarang?) tapi kita
udah dewasa, ternyata byk hal didunia ini yg udah kita lewati dengan
"bangga" dan kemudian merasa "spesial" (merasa berlebihan sekarang?)

nyante mee..kedewasaan sudut pandang itulah yg membuatmu selalu merasa
"bangga", selalu bersyukur untuk tiap titik perubahan di dunia kita, di
kehidupan kita, di tiap biji molekul tubuh kita, dalam sebuah kosmos
semesta alam yg tiada batas (hanya Allah yg tau, subhanallah!) betapa
kecil kita sebagai manusia, bahkan hanya dengan gelegar ombak, badai
petir, terjangan kecepatan kerata api, bahkan kita belum terbayang,
betapa "besar" nikmmat Allah di semesta ini... lalu kita yg hanya
sebagai "setitik debu" ini mulai sombong...astaghfirullah...

makasih mee..udah saling "mengingatkan" untuk menjadi lebih
dewasa...bukan untuk merasa "lebih ato kurang" , hanya untuk belajar
bersikap untuk hal apapun di dunia ini...dunia yg gak pernah abadi..."




miss u bro...



(sometimes boys should cry...)


.:: seorang dhimas sulistyo wibowo ::.






Dari seseorang....



Dalam sebuah pesan dari seorang "kakak"....



"kita cuma setitik debu di padang pasir...apalagi di alam semesta...
tapi mee...tapi !! tapi klo kamu jg gak "bergerak", kamu jg tetep jd
debu yg hanya dinjak2, terbawa angin kesana sini... kamu bisa aja mjd
debu yg masuk ke mata para kafir yg menyerang tentara Rasul, kamu bisa
jd debu yg mnjd bagian tembok cina, bagian dari borobudur...yg
MEGAH!menjadi bagian borobudur gak hrs jd STUPA, hanya jd pondasi jg
sangat penting...ingat apa yg aku katakan ttg memandang "penting"? ya
kan mee..."





Bener mas, begitu banyak pilhan yang ada dihadapan kita....Kita
dapat saja menjadi debu dari sesuatu yang besar ataupun yg kecil, tp
bagaimanapun itu kita hanyalah debu...yang mungkin tidak akan dianggap
bila tidak masuk ke mata seseorang atau bertebaran dalam suatu
kerusuhan......
Begitu banyak pilihan yg ada dihadapan kita dan mengapa kita tidak memilih untuk menjadi yg lebih baik?....


.:: fahmipun ::.